-->
gedung sate bandung photo gedung sate_zpsyeqxzepj.jpg

mesjid raya bandung photo mesjid agung bandung_zpsnvyfrkpn.jpg

jembatan pasopati bandung photo jembatan pasopati bandung_zpsj0ezk3nl.jpg

saung angklung udjo photo saung angklung udjo_zpsewlfdc6g.jpg

Saturday, October 22, 2016

ODED M DANIAL: AL-QURAN SEBAGAI WARISAN UNTUK MANUSIA

Oded M Danial khotib jumat
Wakil Walikota Bandung Oded M Danial menjadi khotib sholat jum'at
PORTALBANDUNG.COM -- BANDUNG. Wakil Wali Kota Bandung Oded M. Danial menjadi khotib shalat jumat di masjid Ikhlasul Muawanah, komplek Citarip Barat RT 05 RW 09, kelurahan Kopo Kecamatan Bojolongloa Kaler Kota Bandung, Jumat (21/10/2016).

Dalam Khotbahnya Oded menyampaikan, ketika Allah menciptakan mahluknya yang diberi nama manusia, maka seiring dengan itu Allah menciptakan petunjuk hidupnya untuk manusia,

“Yaitu Alquran sebagai warisan untuk manusia,”jelasnya.

Ditambahkan olehnya, agar arah hidupnya bisa mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, harus mengikuti petunjuk yang diberikan Allah,

“Yakni memahami Alquran dengan baik dan benar, dengan Al Quran semua kehidupan terdspst petunjuknya, dari mencari rejeki, jodoh, kwbahagiaan dan lain lain,”ujarnya.

Oded menceritakan sekilas tentang Nabi Muhammad,

“Ketika beliau masih hidup, berpesan kepada umatnya agar mampu menyelesaikan kehidupan susuai harapan. Nabi Muhammad berkata “Telah diwariskan kepada kalian pusaka yang berpegang teguh untuk jalan hidup yang benar, yaitu Al Quran,”kata Muhammad. Sehingga Allah dan Nabi Muhammad pun berpegang teguh Al Quran merupakan pedoman yang pasti untuk kehidupan,”jelas Oded.

Ditambahkan olehnya, Allah sengaja menggunakan kalimat warisan karena kita sebagai manusia mempunyai kedekatan dibandingkan mahluk lainnya,

“Oleh karena itu, kita sebagai manusia wajib bersyukur kepada Allah sudah diberikan warisan yang sempurna yaitu Al Quran,”jelasnya.

Lanjut ia menyampaikan, ada tiga golongan manusia yang memanfaatkan Al Quran dalam kehidupannya,

“Diantaranya manusia kafir yang tidak mempercayai Al Quran, manusia yang setengah-setengah, artinya ketika ia mendengarkan ceramah, ibadahnya meningkat dan ketika pergaulannya berubah, ia gaul dengan orang yang salah, maka imannya tidak kokoh. Lalu yang terakhir Sabigun atau Sabakoh artinya berlomba lomba, berusaha setelah menerima warisan, dari mulai membacanya, menafsirkannya dan melakukannya sesuai perintah Allah dalam alquran,”jelasnya.

Ditambahkan Oded, dari tiga golongan itu, sebagai umat muslim harus masuk golongan yang ke tiga,

“Sebab Allah menyukai orang yang memanfaatkan Al Quran sebagai jalan Hidupnya,”pungkas Oded.

Seusai melaksanakan Shalat Jumat, lanjut Wakil Wali Kota Bandung Oded M. Danial melakukan diskusi ringan bersama warga Citarip.



Sumber: Humas Pemkot Bandung

Friday, October 21, 2016

JAWABAN KI BAGUS, AGUS SALIM, dan WACHID HASYIM SOAL TUDINGAN ISLAM BIANG PERPECAHAN


Ki Bagus Hadikusuma
Ki Bagus Hadikusuma
PORTALBANDUNG.COM -- Memang sudah lama Islamophobia tertancap di benak bangsa Indonesia. Situasi ini berkelindan dengan berbagai macam soal yang terkait dengan soal politik kekuasaan. Antipati terhadap ulama pun sudah berlangsung lama. Sejak era awal Kerajaan Mataram ini pun sudah terjadi.

Berbeda sikap dengan Sultan Agung, anaknya Sunan Amangkurat I yang kemudian menggantikannya bersikap antipati terhadap ulama. Penolakan tak mau mendukung Amangkurat naik tahta ini protes atas sikapnya yang buruk serta kerap melakukan tindakan yang tidak terpuji, seperti terlibat dalam kasus pembunuhan serta berebut perempuan dengan putranya sendiri.

Catatan Belanda mengkisahkan betapa Amangkurat I ini kemudian berang dan memutuskan membunuh para ulama yang menentangnya beserta santrinya dan keluarganya. Maka, di suatu pagi ketika matahari baru naik sepenggalah, di Alunan-alun kerajaannya terjadilah pembantaian massal terhadap ulama dan umat Islam. Catatan pejabat VOC Rijklof van Goens, menyatakan antara 5.000 dan 6.000 orang pria, wanita, dan anak-anak tewas dalam peristiwa itu. Tak cukup dengan itu, pesantren di wilayah Giri dan yang berada di sepanjang pinggirian alur sungai Bengawan Solo juga ikut diperintahkan dibakar.

Islamopobhia itu makin kokoh tertancap dalam benak rakyat (Jawa,red) ketika berakhirnya Perang Diponogoro. Seiring dengan kokohnya kekuasaan Kolonial Belanda di Indonesia, pemerintah kolonial kemudian benar-benar menjadikan para Raja Mataram itu hanya sebagai boneka dengan membuat status raja sekedar sekedar lambang budaya belaka.

Kekuasaan spolitik dan pemerintahan sebenarnya ada di tangan patih kerajaan yang itu diangkat atas restu gubernur jendral Hindia Belanda. Kekuatan militer kerajaan Mataram dipreteli hanya sebagai alat upacara saja. Pengaruh ulama yang sebelumnya lekat di kerajaan disingkirkan. Para pangeran secara halus tak lagi diizinkan menikah dengan anak ulama (trauma dengan sosok Pangeran Diponegoro). Para bangsawan hanya dibatasi hanya boleh menikah antabangsawan saja. Kebiasaan para anak raja (bangsawan) yang belajar di pesantren pun dihilangkan.

Setelah itu Islamofobia makin menjadi. Namun perlawanan terhadap kekuasaan terus terjadi. Ulama dan pesantren terus melawan yang kemudian ini disebut mendiang sejarawan Sartono Kartodirdjo sebagai perlawanan rakyat. Dan situasi anti-Islam (Islamopobia) makin terstruktur dengan hadirnya Snouck Hurgronye dan kian eksis di masa Gubernur Jendral Alexander Willem Frederik Idenburg (berkuasa di Hindia Belanda pada 1909-1916). Kedua orang ini memimpikan di masa depan Hindia Belanda akan menjadi negara 'Uni Belanda' dengan cara 'mengkonversi' agama penduduknya yang beragama Islam.

''Kita sudah berkuasa di tanah ini selama 350 tahun, dan kita akan berkuasa di tanah ini 350 tahun lagi,'' begitu kata Idenburg pada sebuah perhelatan hari ulang tahun Ratu Belanda. Namun ini tak terbukti, sebab 35 tahun kemudian Hindia Belanda lepas dari cengkeraman Belanda dan menjadi negara baru bernama 'Indonesia'.

Ironisnya, meski penjajah Belanda sudah angkat kaki dari bumi pertiwi ini, datangnya kemerdekaan ternyata tak menghapus adanya sikap phobia tersebut. Umat dan ajaran Islam tetap kerap dituding sebagai biang keladai dari segala macam kerusuhan, aksi kekerasan, hingga aneka sikap permusuhan lainnya. Situasi ini terekam dalam sidang ( saat itu disebut rapat sesar) Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Dan para tokoh Islam yang menjadi angota sidang BPUPKI seperti Ki Bagus Hadikusumo, Haji Agus Salim, dan KH Wachid Hasyim menyadari betul adanya situasi tersebut. Meski ada gencetan luar biasa agar peran Islam tak usah ikut dalam pengaturan kenegaraan, secara garis besar para tokoh besar ini tetap mampu dengan canggih mengemukakan bila ajaran dan umat Islam harus dijamin dalam kehidupan bangsa Indonesia yang merdeka.

Berikut sikap Ki Bagus ketika dengan cerdas membantah soal segala sikap tudingan pejoratif terhadap ajaran dan umat Islam sebagai biang perpecahan yang sudah berlangsung ratusan tahun dan makin eksis semenjak datangnya zaman penjajahan Belanda.

Tuan-tuan yang terhormat !
Tuan-tuan telah maklum apabila ada seseorang yang hendak membentangkan dan mengetengahkan soal agama atau meninjau suatu perkara dari segi agama, rupanya ia sangat takut dan berhati-hati sekali karena kuatir kalau-kalau pembicaraan itu menimbulkan perselisihan dan perpecahan.
Padahal sebenarnya bukan hanya perkara agama saja yang dapat menimbulkan perselisihan dan perpecahan apabila diperbincangkan dengan tidak berdasar kejujuran, kesucian dan keikhlasan. Perkara apakah bentuk negara kita ini republik atau monarki, serikat, atau kesatuan, itu pun dapat menimbulkan perpecahan dan perselisihan yang amat hebat dan dahsyat.
Bila pembicaraan tidak berdasar kesucian, keikhlasan, dan kejujuran; tetapi berdasar keinginan menang sendiri, mau mendapat nama sendiri dan mau enak sendiri; atau berdasar kekuatiran tidak akan mendapat kursi atau pangkat, sudah pasti akan timbul perpecahan dan perbantahan yang lebih dahsyat dan berbahaya. Atau karena memang karena kita telah kena pengaruh politik memecahbelah gemar berselisih suka bercekcok seperti di kala zaman penjajahan Belanda.
Sampai saat ini bekas-bekas politik penjajahan itu masih ada, kentara sekali dalam jiwa kita bersama. Itulah sesungguhnya yang menjadi sebab timbulnya percekcokan perpecahan dan lain-lain hal yang jahat, bukan disebabkan oleh agama yang baik dan suci itu.

(Pidato Ki Bagoes Hadi Koesoemo, buku Risalah sidang Rapat Besar Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia, Gedung Tyuuoo Sangi-In tanggal 31 Mei 1945, penerbit Sekretariat Negara 1995, Jakarta)
KH. Agus Salim
KH. Agus Salim
Jawaban Agus Salim kepada Latuharhary

Sikap senada juga dikemukakan oleh Haji Agus Salim saat menanggapi pernyataan ketidaksejujuan adanya frase 'kewajiban menjalankan Islam bagi pemeluk-pemeluknya' di dalam Mukadimah UUD 1945. Latuharhary mengatakan bila ada 'kalimat tersebut' maka akan timbul kekacauan. Dia memberikan ilustrasi mengenai konsekuensi aturan itu di kalangan rakyat Maluku, terutama terkait hak atas tanah.

Soekarno saat itu berusaha menengahi karena dia yakin bila tidak ada kalimat itu maka kalangan Islam tidak akan mau menerima mukadimah atau preambule UUD 1945.''Jadi manakala kalimat ini tidak dimasukkan, saya yakin bahwa pihak Islam tidak bisa menerima preambule ini, jadi perselisihan nanti terus,'' kata Sukarno.

Mendengar pernyataan Latuharhary dan Sukarno, Haji Agus Salim kemudian angkat bicara:

Orang Minangkabau bukan Islam sejak sekarang, malah orang Minangkabau dapat nama paling Islamnya di Indonesia ini. Berhubung dengan adat Minangkabau dalam pertikaian atau sasaran adat Mingkabau dengan hukum Islam bukanlah masalah baru. Hal itu tidak dapat dijalankan dengan paksaan cuma saya percaya bahwa perubahan aliran adat pada kita pihak Islam kepada syariat Islam, adalah satu perkara yang dengan sengaja harus dijaga oleh kekuasaan pemerintah, sehinga kalau boleh dijalankan dengan jernih dan tegas pertikaian di Minangkabau sudah selesai, bisa ditentukan di mana dasar hukum adat dan di mana dasar hukum Agama. Jadi, itu satu perkara yang tidak akan menerbitkan kekacauan sebagaimana disangkakan.
Kedua, wajib umat Islam menjalankan syariat, biarpun tidak ada Indonesia Merdeka, biarpun tidak ada hukum dasar Indonesia, itu adalah satu hak umat Islam yang dipegangnya. Cuma kalau kita sesuaikan pikiran tentang itu, umat Islam menjalankan haknya dalam persetujuan pikiran tentang itu, umat Islam menjalankan haknya dalam persetujuan pikiran dengan segala orang Indonesia. Dan, kalau tidak membenarkan itu, umat Islam akan merasa berkewajiban menjalankan kewajiban itu. Di samping itu, riwayat adat dan agama kita memberi kepercayaan sedikit bahwa umat Islam di negeri-negeri adat tidak akan berlaku dengan...melainkan kalau diakui, lebih tenang perjalanannya dari pada kalau dihalangi agamanya seperti dirasakan di zaman yang lalu saya rasa buat membikin hati tidak aman, sebab saya yakin keamanan bangsa-bangsa yang tidak beragama Islam dalam kurun 30 tahun yang lalu tidak berdasarkan kekuasaan Balatentara, tetapi pada adat-adatnya uma Islam yang 90% itu. (buku Risalah Sidang BPUPKI hal 239-240).


KH. Wachid Hasyim
Jawaban KH Wachid Hasyim kepada Djajadiningrat

Setelah Agus Salim bicara, kemudian muncul pertanyaan Prof DR P Ahmad Husein Djajadingrat: Apakah ini tidak menimbulkan fanatisme, misalnya memaksakan sembahyang, memaksa shalat, dan lain-lain?

Adanya pertanyaan itu kemudian dijawab KH Wachid Hasjim:

Ini semua tergantung kepada jalannya dan karena sudah berkali-kali menegaskan di antara kita semua bahwa susunan pemerintahan didasarkan atas perwakilan dam permusyawaratan, jadi kalau ada kejadian paksaan, soal ini dapat dimajukan dan diselesaikan. Dalam hal ini saya perlu memberi keterangan sedikit. Seperti kemarin telah dikatakan anggota Sanoesi (KH Sanoesi,red) kalimat ini baginya kurang tajam. Saya sudah mengemukakan bahwa ini hasil kompromis (rancangan Pembukaan UUD 1945 yang menyertakan kalimat kewajian menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya, red) dan dijadikan lebih tajam, bisa menimbulkan kesukaran.
Kita tidak usah khawatir dan saya rasa bagi kita masih banyak daya upaya untuk menjaga keamanan jangan sampai kejadian hal-hal yang kita kuatirkan malah saya yakin tidak akan terjadi apa yang dikhawatirkan. Saya sebagai orang Islam yang banyak sedikitnya mempunyai perhubungan dengan masyarakat Islam dapat mengatakan bahwa jika ada badan perwakilan, kejadian itu tidak akan terjadi. Saya kemukakan ini supaya soal ini tidak akan menjadi pembicaraan panjang lebar, hingga menimbulkan macam-macam kekhawatiran yang sebenarnya tidak dirasa.
Dan jika masih ada yang kurang puas karena seakan-akan terlalu tajam, katakan bahwa masih ada yang berpikir sebaliknya sampai ada yang menanyakan pada saya apakah dengan ketetatapan yang demikian ini orang Islam sudah boleh berjuang menyeburkan jiwanya untuk negara yang kita dirikan ini.

Jadi saya minta supaya hal i ni jangan diperpanjang. (Buku Risalah Sidang BPUPKI hal 240-241).

Sumber: ROL
SaveSave

Monday, August 15, 2016

INI ENAM AMALAN BERPAHALA SETARA IBADAH HAJI

Masjidil Haram
Masjidil Haram di malam hari
Oleh: Dr Ahmad Kusyairi Suhail

Setiap Muslim pasti berobsesi dapat menunaikan ibadah haji. Namun, tidak semuanya dikabulkan oleh Allah SWT untuk menjadi tamu-Nya di Tanah Suci. Bagi yang belum ditakdirkan beribadah haji tahun ini, tidak perlu kecewa dan putus asa. Sebab, ternyata masih ada peluang besar untuk mendapatkan pahala haji.

Rasulullah SAW telah memberikan berita gembira tentang beberapa amal saleh yang berpahala haji dan tentu saja tidak menggugurkan kewajiban haji, di antaranya: 

Pertama, melaksanakan shalat fardhu berjamaah di masjid.

Dari Abi Umamah RA, sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang berjalan menuju shalat fardhu berjamaah, maka ia seperti haji. Dan barang siapa yang berjalan menuju shalat sunah, maka ia seperti umrah sunah.” (HR Ath Thabrani dalam Al Mu'jam Al Kabir no 7578).

Kedua, birru'l walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua). Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, seorang laki-laki pernah datang menemui Rasulullah SAW, lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya aku ingin sekali berjihad, tetapi aku tidak memiliki kemampuan untuk itu.” Rasulullah SAW lalu bertanya kepadanya, “Apakah masih ada yang hidup di antara kedua orang tuamu?” Lelaki itu menjawab, “Ibuku.”Rasul pun kemudian mengatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah dengan berbuat baik kepada ibumu. Sebab, jika engkau melakukan itu, engkau adalah jamaah haji, umrah, dan mujahid (orang yang berjihad).” (HR Ath Thabrani dalam Al Mu'jam Al Ausath no 2915).

Ketiga, menghadiri majelis ilmu di masjid, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang pergi ke masjid, ia tidak menginginkan hal itu kecuali untuk belajar kebaikan atau mengajarkannya. Maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji, sempurna hajinya.” (HR Ath Thabrani dalam Al Mu'jam Al Kabir no 7473).

Keempat, menunaikan umrah di bulan Ramadhan. Dari Ibnu Abbas RA, sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Melaksanakan umrah di bulan Ramadhan itu (berpahala) seperti haji atau (seperti) haji bersamaku.” (Muttafaqun 'Alaihi; Bukhari no 1782, 1863, Muslim no 3097).

Kelima, duduk di masjid setelah shalat Subuh berjamaah untuk berzikir lalu shalat dua rakaat setelah matahari terbit, yakni waktu syuruk. Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa shalat Subuh berjamaah, kemudian ia duduk (menunggu) sambil berzikir hingga terbit matahari, lalu ia melaksanakan shalat dua rakaat, maka baginya pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.” (HR Tirmidzi no 589).

Keenam, berzikir setelah shalat. Dari Abu Hurairah RA, ia bercerita bahwasanya orang-orang fakir dari kaum Muhajirin pernah mendatangi Rasulullah SAW, lalu mengadu, “Orang-orang kaya pergi membawa derajat yang tinggi dan tempat yang bergelimang nikmat. Nabi bertanya, “Apa itu?” Mereka berkata; Mereka shalat sama seperti kami shalat dan mereka berpuasa sama seperti kami berpuasa. Hanya saja, (bedanya) mereka memiliki kelebihan harta sehingga mereka bisa menunaikan ibadah haji, umrah, berjihad, dan bersedekah (dengan hartanya, sementara kami tidak bisa karena miskin).

Lalu beliau bersabda, “Apakah kalian ingin aku ajari sesuatu yang (jika kalian amalkan) kalian dapat mengungguli orang-orang yang mendahului kalian dan mengalahkan orang-orang setelah generasi kalian? Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama dari kalian, kecuali orang yang mengamalkan hal yang sama seperti yang kalian amalkan?”

Mereka menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setiap selesai shalat (masing-masing) sebanyak 33 kali.” (Muttafaqun 'Alaihi). Semoga kesungguhan kita mengamalkan amalan-amalan di atas bisa menjadi pembuka jalan menuju Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji yang hakiki. Allahumma amin.

Sumber: ROL

BERUTANG UNTUK BERQURBAN, BOLEHKAH SECARA SYARI'AT?

qurban
Ilustrasi
PORTALBANDUNG.COM -- MELAKSANAKAN perintah Allah Subahanahu wa Ta’ala merupakan suatu keharusan. Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh ingin dekat pada-Nya, maka akan terus berusaha menjalankan syariat-Nya. Meski itu cukup berat baginya, tapi ia akan berusaha sepenuh hatinya.

Salah satu hal yang bisa mendekatkan diri pada Allah ialah dengan berqurban. Ya, qurban merupakan salah satu yang dianjurkan oleh Allah. Dengan berqurban, berarti kita telah memberikan kebahagiaan pada orang lain, maka Allah pun akan memberikan kebahagiaan pula pada kita, insyaAllah.

Hanya saja, keadaan ekonomi seringkali menjadi penghambat dalam menjalankan perintah yang satu ini. Tetapi, rasa ingin berqurban begitu besar. Maka, ada orang yang rela berqurban dengan cara berutang. Tapi, apakah hal ini diperbolehkan?

Ibadah qurban hukumnya sunnah muakkadah, atau wajib bagi yang mampu saja. Maka jika seseorang tidak mempunyai uang untuk membeli hewan qurban, maka tidak apa-apa dia tidak berqurban. Akan tetapi jika dia ingin menjalankan sunnah dengan berutang, maka harus diperinci terlebih dahulu.

Pertama, jika dia mempunyai kemampuan untuk mengembalikan utang tersebut, seperti jika dia mempunyai penghasilan yang bisa melunasi utang, atau dia seorang pegawai yang akan mendapatkan gaji di akhir bulan, maka dibolehkan dia berutang untuk berqurban. Bahkan sebagian ulama menganjurkan hal tersebut, karena ibadah qurban ini hanya datang setahun sekali.

Berkata Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ Al-Fatawa (26/305), “Jika seseorang merasa mampu untuk membayar utang, maka berutang untuk membeli hewan qurban adalah sesuatu yang baik, tetapi tidak wajib baginya untuk mengerjakan seperti itu.”

Kedua, jika dia tidak mempunyai kemampuan membayar dan tidak ada penghasilan yang bisa menutupi utang tersebut, maka dimakruhkan baginya untuk berutang. Karena utang tersebut akan membebaninya untuk sesuatu yang tidak wajib baginya.

Sumber: www.ahmadzain.com

Sunday, August 14, 2016

PAKAR PSIKOLOGI: PENGEMBANGAN PSIKOLOGI ISLAM WAJIB DILAKUKAN

Bagus Riyono
Bagus Riyono
PORTALBANDUNG.COM, BANTUL—Pakar psikologi Bagus Riyono mengungkapkan Ilmu Psikologi yang selama ini berkembang menganut ilmu psikologi yang atheis. Dimana menganggap yang paling berkuasa di dunia ini adalah manusia, yang paling penting adalah hawa nafsu, dan kebahagaiaan adalah hedonistik dan materialistik.

“Untuk itu kita wajib mengembangkan psikologi Islam, karena berdasar Al Quran, dan secara isi, ilmunya sudah lengkap, yang akan membawa kita pada pemahaman tauhid, dan pelajaran bagi mereka yang menggunakan akal,” jelas Bagus Riyono dalam Seminar Al-Quran yang merupakan serangkaian acara Festival Al-Quran yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (11/8/2016).

Bagus menilai, semua ilmu, harus berkembang dari kajian-kajian ayat-ayat Al-Quran.

”Sementara ini ilmu psikologi masih berangkat dari pengalaman penulisnya. Dalam bentuk teori, latar belakang, dan alasan kenapa teori ini muncul. Alhasil, teori psikologi berbeda-beda dan bertentangan. Jadi, jika ingin mempelajari psikologi secara ilmiah, maka kita harus mempelajari Al Quran,” terangnya.

“Psikologi menurut Islam itu apa? Tidak lain dan tidak bukan ya Islam itu sendiri. Islam diturunkan untuk memperbaiki akhlah manusia, itulah ilmu psikologi. Ilmu untuk memahami dan menghayati, apa yang harus kita lakukan di dunia ini, siapa kita ini, apa karakteristik dasar kita sebagai manusia, yang harus kita jaga, agar kita tidak tersesat dalam hidup,” tambah Bagus.

Sedangkan psikologi islam lewat Al Quran, Bagus mengatakan, mampu mengajarkan, berpikir kritis, menggunakan akal, kemudian diuji secara empiris. Psikologi Islam justru lebih ilmiah, karena ciri ilmiah itu lepas dari objek.

“Justru prinsip dasar psikologi, bahwa semua manusia itu subjektif. Jangan pernah merasa pendapat kita paling benar. Dibuktikan oleh pemikir Islam, Ibnu Khaldun, bahwa sejarah bukan representasi dari kenyataan, tapi sejarah adalah representasi subjektif dari penulisnya,” demikian Bagus.

Sumber: Muhammadiyah.or.id

Sunday, July 31, 2016

EMPAT AMALAN AHLI SURGA DALAM SATU HARI

jalan pegunungan
gambar ilustrasi

Oleh: Inayatullah Hasyim

Betapa indahnya ketika berbicara tentang surga. Allah SWT berfirman, (Artinya) Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya. (QS Al-Kahfi: 107-108).

Dengan kasih Allah dan rahmat-Nya kepada kita, Allah telah membentangkan gambaran surga yang nikmat itu, dengan menekankan keabadian dan kesempurnaan, tanpa kekurangan sedikitpun, tidak lelah atau sibuk dengan hiruk pikuk, tak ada kerugian, tidak ada yang dicurangi.

Rasulullah SAW menyebutkan beberapa peristiwa ringan yang mengantarkan seseorang menjadi ahli surga, dengan amalan di satu hari.

Suatu hari Rasulullah SAW bertanya, “Siapa di antara kamu yang berpuasa hari ini?”. Abu Bakar RA menjawab: “Aku”. Rasulullah SAW bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang telah mengikuti pemakaman hari ini?” Abu Bakar RA berkata: “Aku”. Rasulullah SAW berkata lagi, “Siapa di antara kalian yang memberi makan orang miskin hari ini?”. Abu Bakar berkata lagi, “Aku”. Rasulullah SAW bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang menjenguk orang sakit hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Aku”. Rasulullah SAW kemudian berkata, “Jika terkumpul seluruh amalan pada seseorang (seperti ini), niscaya ia akan masuk surga”.

Pada diri Abu Bakar RA di hari itu terkumpul seluruh kebaikan yang ringan namun mengantarkan pada surga. Sehingga, dalam riwayat lain, Umar bin Khattab RA sampai berkomentar, “oh…itu (amalan) ahli surga”.

Memang, menggabungkan semua pekerjaan itu dalam satu hari bukan hal mudah. Namun, dengan niat dan kesungguhan, kita bisa melakukannya. Sebab, seperti dikatakan Ibnul Qayyim, “Kebahagiaan dunia dan akhirat berpulang pada seberapa besar (perjuangan) melawan keletihan, tak ada (kenikmatan) istirahat bagi yang tak merasakan letih; bahkan sebesar rasa letih itulah, kenikmatan istirahat (dapat dirasakan).”

1. Berpuasa Sunnah
Berpuasa sunnah Senin-Kamis adalah ibadah yang sangat bermanfaat. Selain menyehatkan, ia merupakan amalan yang dianjurkan Rasulullah SAW. Beliau SAW berkata, “Amal-amal kebajikan dilaporkan pada setiap hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amalanku dilaporkan sedang aku dalam keadaan berpuasa.” (HR Tirmidzi). Selain itu, kata Rasulullah SAW juga, berpuasa menjauhkan kalian dari sikap riya.

2. Menjenguk orang sakit
Menjenguk teman atau kerabat yang sakit adalah amalan utama yang sangat bernilai. Walaupun kita datang tanpa membawa buah tangan apapun, tetapi kehadiran kita bagi yang sakit membangkitkan semangat baginya untuk sembuh.

Dalam riwayat Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW berkata, “Barang siapa yang mengunjungi orang sakit niscaya dia mendapatkan rahmat. Maka apabila dia duduk di sampingnya dia tetap berada di dalam rahmat, dan apabila dia keluar dari orang yang sakit dia terus dinaungi rahmat sampai dia kembali ke rumahnya”.

Di kitab “Al-Ikhtiarat al-Fiqhiyah”, Imam Ibn Taymiyah bahkan berfatwa hukum menjenguk orang sakit adalah fardhu kifayah. Artinya, jika tak ada seorang pun yang peduli pada tetangga yang sakit, seluruh warga berdosa karenanya.

3. Mengikuti pemakaman
Demikian halnya bertakziah. Saat mengunjungi sanak famili yang tengah dirundung musibah kematian, misalnya, adalah pekerjaan yang ringan. Tetapi, efeknya sangat dahsyat bagi keluarga yang ditinggalkan. Sehingga, dalam riwayat lain, Rasulullah SAW menganjurkan untuk berkata, “Sesungguhnya Allah-lah yang mengambil. (sebab) Dia-lah yang memberi. Dan di sisi-Nya, segala sesuatu memiki ajal tertentu”.

Dengan ucapan itu, diharapkan dapat menenteramkan seseorang dari kedukaannya. Sedemikian pentingnya amalan takziah ini, sehingga Imam Syafi’i berfatwa, “tak ada batasan waktu mengucapkan kalimat takziah”. (Kitab al-Umm).

4. Memberi makan orang miskin
Memberi makan orang miskin adalah amal lainnya yang terlihat ringan. Sepiring nasi yang kita berikan pada seseorang yang tengah kelaparan sesungguhnya tidak sekedar mengenyangkan perutnya, namun menguatkan mata batin persaudaraan dengannya. Bahwa, dia akan merasa ada orang lain yang peduli pada kesulitan hidup yang tengah dihadapinya.

Perjuangan orang-orang shalih yang memberi makan fakir-miskin itu disinyalir Allah SWT dalam firman-Nya, (artinya) “Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” (QS Al-Insan: 9).

Semoga, amalan-amalan kebaikan yang dicontohkan Abu Bakar RA itu dapat kita lakukan.

Wallahu’alam. (dakwatuna.com/hdn)

Tuesday, July 19, 2016

PM INGGRIS THERESIA MAY BACAKAN AYAT AL-QURAN DAN SEBUT ISLAM AGAMA DAMAI


PORTALBANDUNG.COM -- Perdana Menteri Inggris Theresa May membaca terjemahan ayat al-Quran untuk menyatakan bahwa Islam adalah agama damai.

Pernyataan itu disampaikan pada acara Konferensi Partai Konservatif tahun 2014 silam.

Dalam pidatonya, ia mengungkapkan bahwa ISIS atau terkenal dengan istilah Islamic State sama sekali bukanlah Islam ataupun State (negara). Lebih lanjut, ia menyitir terjemahan Al-Quran Surat al-Hujurat ayat 13:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal . (QS al-Hujurat [49]: 13).

Bagi PM Theresa May, ISIS hanyalah kelompok ekstrem yang tidak merepresentasikan nilai-nilai Islam.
Pidatonya disambut tepuk tangan hadirin yang memenuhi ruangan konferensi.
Berikut videonya: https://www.youtube.com/watch?v=SwKCtNZNIi0
Sumber: Duniatimteng.com
SaveSave

Thursday, July 14, 2016

UST. FIRANDA: QUNUT SHUBUH ITU PERKARA KHILAFIYAH BUKAN BID'AH

PORTALBANDUNG.COM -- Madzhab Syafii menyatakan bahwa Qunut Shubuh Sunnah. Sementara kalau kita pelajari, hadits sanad Qunut Shubuh itu lemah, sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Qunut Shubuh merupakan masalah Khilafiyah yang Muktabar (khilafiyah yang kuat). Meskipun sanadnya lemah, kita tidak boleh mengatakan sesat kepada pihak yang melakukan Qunut Shubuh.

Sementara Imam Ahmad memfatwakan Qunut Shubuh tidaklah Sunnagh, meski demikian Imam Ahmad menganjurkan agar orang yang menjalankan Sholat dibelakang Imam yang Qunut Shubuh, maka harus Qunut Shubuh.

Antum sebagai makmum, maka ikut imam. Karena ini masalah khilafiyah, masalah Ijtihadiyah. Namun bukan berarti jika ada imam Sholat Ashar 5 rakaat terus mengikuti, ini kasus yang berbeda.

Terkadang sangat berat bagi kita yang sering menyelisihi Imam, menyangka Qunut Shubuh itu Bid’ah, maka kalau kita ikut Qunut maka ikut terjerumus kedalam bid’ah. Padahal tidak demikian.

Senada dengan Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menfatwakan bahwa meskipun Qunut Shubuh tidak sunah, namun memerintahkan kepada orang yang menjadi makmum ke Imam yang Qunut Shubuh, maka harus mengikutinya.

Demikian pula fatwanya Muhammad bin Sholeh Utsaimin dalam kitabnya Syahrul Mumti’, dia mengatakan bahwa orang yang menjadi makmum dibelakang Imam yang Qunut Shubuh, maka dia ikut Qunut Shubuh.

Yang kita sedihkan memang, timbul dari dua belah pihak yang tidak faham, dari pihak yang tidak mau Qunut Shubuh dan pihak yang Qunut Shubuh.
Dari pihak yang Qunut Shubuh mengatakan menganggap Qunut Shubuh seakan-akan kewajiban Sholat, kalau tidak Qunut Shubuh seakan-akan Sholatnya tidak sah. Padahal Imam Syafii sendiri tidak pernah memfatwakan wajib, paling maksimal hukum Qunut Shubuh adalah Sunnah.
Sementara dari pihak yang tidak Qunut Shubuh menganggap pihak yang Qunut Shubuh seakan Sholatnya tidak benar dan memvonis sebagai ahlul bid’ah.

Kedua kubu ini seharusnya memahami bahwa Qunut Shubuh merupakan masalah Khilafiyah, tidak sampai kepada perkara bid’ah membid’ahkan. Barangsiapa yang terjerumus kepada bid’ah membid’ahkan dalam masalah Qunut Shubuh dia telah menyelisihi Manhaj Ahlu Sunnah, tidak ada Imam yang dia ikuti.

Sumber: http://islamedia.id/ustadz-firanda-adirja-qunut-shubuh-itu-perkara-khilafiyah-bukan-bidah/

INNALILLAHI! GADIS YOGYA YANG PERNAH INFAQ MOTOR UNTUK PALESTINA ITU WAFAT

PORTALBANDUNG.COM -- YOGYAKARTA, Rabu (Sahabat Al-Aqsha): Innalillahi wa inna ilayhi raji’uun. Dewi Masithoh, gadis yatim piatu berusia 25 tahun yang merupakan donatur Sahabat Al-Aqsha itu Senin (11/7) lalu meninggal dunia. Gadis yang berwirausaha konveksi untuk menafkahi dan membiayai kuliah adiknya itu pernah menginfakkan motornya demi Palestina. Dewi meninggal dunia akibat kecelakaan mobil di jalur Pantura Tuban, Jawa Timur dan telah dimakamkan Selasa (12/7) malam. Semoga Allah anugerahkan ia husnul khatimah.

Dewi merupakan warga Kauman, Yogyakarta. Ia lulus kuliah pada tahun 2011 dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Jurusan Manajemen. Sang adik, Bagus Muhammad Ikhsan yang juga menuntut ilmu di universitas dan jurusan yang sama dengan Dewi kini tengah menunggu wisuda. Bagus juga berada dalam mobil yang sama dengan Dewi, ia mengalami luka berat.

Dewi dan Bagus telah mengalami kesedihan ditinggal orangtua sejak mereka masih belia. Sang ibunda meninggal dunia tatkala Dewi masih kelas 1 SMP. Selang 27 hari kemudian, sang ayah juga meninggal dunia. Ketika ditawari untuk menikah, Dewi menyatakan ia ingin fokus membiayai kuliah adiknya.

Dewi merupakan sosok perempuan dengan semangat juang yang tinggi. Ia mendirikan usaha konveksi yang diberi nama B&D (yang merupakan inisial nama adiknya, Bagus, dan Dewi). Dengan mempekerjakan 10 karyawan, Dewi mengelola bisnisnya dengan manajemen kekeluargaan yang luar biasa. Meski sudah tidak lagi menjadi karyawannya, jika bersilaturrahim Dewi selalu memberi mereka hadiah dan santunan. Ia juga menerima penyandang disabilitas (tunanetra dan tunawicara) sebagai karyawan di saat pengusaha lain tak mau menerima kondisi mereka. Ya, kepedulian sosial Dewi sangat tinggi. Ia juga pernah menginfakkan motornya untuk Palestina melalui Sahabat Al-Aqsha. Dan alhamdulillah, Ramadhan lalu Dewi juga banyak berubah terutama dalam hal berpakaian lebih syar’i. Semoga Allah ampuni dosanya dan terima segala amal ibadahnya.* (Sahabat Al-Aqsha)

Sumber: http://sahabatalaqsha.com/nws/?p=19260

Thursday, July 7, 2016

SALIM A. FILLAH: KAPAN NIKAH?

[portalbandung.com]. Tidak. Kita tak sedang membahas pertanyaan yang sering muncul di seputar Lebaran. Tulisan ini hanya saran kepada para bujang, semoga mereka berkenan menjadikannya pertimbangan.

Banyak pria yang menunggu mapan untuk mulai berrumahtangga. Tapi saya amati, mereka yang menikah di waktu mapan akan dipertemukan Allah dengan pasangan yang memang siapnya untuk mapan. Dari mereka juga akan hadir anak-anak dalam suasana mapan, dibesarkan dalam kemapanan, dan hanya siap tumbuh menjadi generasi mapan.

Hanya sedikit yang memulai pernikahan dengan kemapanan, lalu dapat menyuasanakan rumahtangganya dengan semangat perjuangan.

Pentingkah rumahtangga yang disesaki ruh perjuangan itu? Barangkali saya terlalu melankolis, tapi rumahtangga para Nabi dan Rasul ‘Alaihimus Shalatu was Salaam yang kita baca dalam Al Quran lebih sering mencerminkan itu.

Ibrahim yang hidup berpindah-pindah dan sering berpisah. Yusuf yang direnggut dari kasih oleh dengki dan mengalami lika-liku ngeri. Musa yang dibuang agar selamat tanpa kisah tentang Ayah. Muhammad yang yatim lagi piatu, diasuh paman yang hidupnya miskin dan tertungkus lumus di antara debu.

Rumah yang dinyalai ruh perjuangan adalah kebun subur bagi tumbuhnya manusia agung.
Jadi mengapa kita tak mencoba menikah di kala semua tampak jelas bagi iman meski masih remang bagi mata, hidup dalam yakin pada Allah meski diragukan manusia, serta dalam keadaan tetap bekerja meski pekerjaan tak tetap? Bersama itu ada wajah culun, penampilan bosah-baseh, kesibukan yang tak memberi waktu bersantai, dan hidup pas-pasan.

Calon pasangan yang berani mengiyakan lamaran kita di saat seperti itu, pastilah seorang pejuang.

Memang tiap kita diberi ujian. Yang tampan, terkenal, kaya; pasti jauh lebih rumit baginya mendapat pasangan yang mau mendampinginya karena Allah. Bukan karena ketampanannya. Bukan karena kemasyhurannya. Bukan karena kekayaannya.

Tiap hal yang menonjol, selalu lebih kuat potensinya untuk membiaskan niat.

Maka bersegeralah wahai bujang-bujang miskin, sebab Allah menjanjikan kecukupan dalam pernikahan. Maka bergegaslah wahai bujang-bujang tak mapan, sebab Allah kan menyediakan pasangan pejuang bagi para pejuang.

Suatu hari ketika pasangan pejuang itu menikah, berkatalah sang suami pada istrinya, “Maaf ya, belum bisa membelikan rumah. Ini kontrakannya juga kecil dan mesti lewat gang sempit.”

“Tidak apa Sayang. Punya rumah itu tidak wajib kok.”

“Oh iya ya? He he..”

“Iya, yang wajib itu shalat, hi hi..”

“Iya ya, yang wajib itu shalat. Terus memangnya kamu nggak ingin punya rumah, Sayang?”

“Mau banget banget banget, Sayang. Tapi yang penting rumah di surga. Kalau di dunia, meski pindah-pindah sewa, asal bersamamu aku rela.”

“Aduh Sayang, andai semua istri seperti kamu adanya, apalah gunanya ada KPK.”

Dan rumah mereka lalu tumbuh meluas atas karunia Allah, sebab puluhan anak-anak tetangga pun terundang untuk belajar, mengaji, menghafal Quran, membaca, dan berkarya di tiap sorenya.


noted : Foto Ilustrasi diambil beberapa bulan sebelum pernikahan saya. Hitamnya kulit karena terpanggang mentari dalam demonstrasi, kurusnya badan karena banyak pikiran tanpa ada tempat melabuh keluhan, dan wajah pucat yang kini telah berbeda karena ada yang merawat.
Ditulis oleh Salim A Fillah
Dipublikasikan pertama di fb.com/salim.a.fillah

Tuesday, July 5, 2016

DAHSYAT! INI RAHASIA DR.ZAKIR NAIK MENDIDIK PUTRA PUTRINYA DENGAN SUKSES


[portalbandung.com]. Dalam sebuah forum di Malaysia baru-baru ini, seorang siswi bertanya kepada Dr Zakir Naik tentang bagaimana mendidik anak-anaknya sehingga bisa menjadi penceramah internasional.

“Bagaimana kau membesarkan putrimu menjadi penceramah internasional yang sukses sedangkan wanita dianggap lemah dan rapuh? Terima kasih,” kata seorang siswi Sekolah Permata Insan.
Jawaban Dr Zakir Naik

Yang aku pahami dari pertanyaanmu, “Bagaimana kau membuat putrimu menjadi penceramah sukses sehingga dia bisa berceramah di depan publik?”

Merupakan kewajiban setiap muslim untuk berdakwah. Menurut Surat Al Ashr,


وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman, mengerjakan amal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran derta menasehati dalam kesabaran” (QS. Al Ashr: 1-3)

Minimal ada empat syarat yang diperlukan manusia manapun untuk bisa masuk surga. Yang pertama adalah iman, yang kedua adalah amal shalih, yang ketiga menasehati supaya mentaati kebenaran atau berdakwah, yang keempat menasehati supaya bersabar.

Jadi menurut surat Al Ashr, ada empat syarat yang harus kau penuhi untuk masuk surga. Mungkin kau muslim yang baik, shalat lima waktu, puasa Ramadhan dan berhaji, tapi jika kau tidak melakukan dakwah, kau tidak akan masuk surga.

Jadi setiap muslim harus menjadi dai paruh waktu (part time). Ini wajib.

Lebih jauh Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 104.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulang orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104)

Di sini Allah berfirman tentang dai penuh waktu (full time). Sebagaimana ada dokter penuh waktu, insinyur, pengacara, pebisnis. Berapa banyak dai penuh waktu yang ada? Merekalah orang yang beruntung.

Kau tahu aku, aku kuliah kedokteran. Menurutku dokter adalah profesi terbaik di dunia. Tapi setelah bertemu Syaikh Ahmed Deedat, aku menyadari bahwa dai adalah profesi yang lebih baik.

Tentang pertanyaanmu, aku akan menjadikan anak-anakku baik laki-laki maupun perempuan menjadi dai. Sebab itu adalah profesi terbaik. Inilah profesi para Nabi. Dan ketika aku mendirikan sekolah di Bombay, ini adalah edukasi dunia dan akhirat. Ketika anak-anak bergabung dengan sekolah ini, kami memberikan pendidikan untuk dunia dan akhirat.

Ketika anak-anak bergabung dengan sekolah ini pada usia 2,5 tahun, kami mengajari mereka bahasa Inggris dan bahasa Arab di Playgroup. Ketika kelas 5 SD, mereka telah paham Al Quran.

Mereka yang memilih hifz, menjadi hafizh saat kelas 5 SD. Ketika mereka kelas 9 atau 10, mereka bisa menerjemahkan sebagian besar Al Quran.

Kebugaran fisik juga perlu. Ketika kelas 5 atau 6 mereka wajib mendapatkan sabuk hita bela diri.

Ketiga anakku, masya Allah, semuanya hafal Quran. Mereka pemegang sabuk hitam dalam bela diri. Alhamdulillah.

Mereka hafizh Quran, bisa berbahasa Inggris dan kami mengajari mereka bicara di depan publik sejak usia empat tahun. Jadi sejak balita kami mengajari mereka berbicara di depan audien. Jadi ketika anak-anak kami usia lima, enam dan tujuh tahun, kau bisa menyaksikan mereka di Peace TV berbicara di hadapan ribuan orang.

Lebih lengkapnya, silahkan simak video berikut ini:


Sumber: http://bersamadakwah.net/anak-anak-dr-zakir-naik/

DOA DAN JUMLAH JAMAAH TARAWIH AKHIR RAMADHAN 1437 H DI MASJIDIL HARAM


[portalbandung.com]. Masjid al-Haram, Makkah, tak pernah sepi dari aktivitas ibadah umat Islam yang datang dari beragai belahan dunia. Tak terkecuali selama bulan suci, Ramadhan.

Tetapi, tahukah Anda, berapa jumlah jamaah yang memadati masjid kebanggaan umat Islam itu, selama Ramadhan, tertutama pada sepuluh terakhir pengujung bulan ini?

Dilansir dari aljazeera.net, otoritas setempat menyatakan, jumlah Muslim yang beribadah, mulai dari beriktikaf, thawaf, dan lain sebagainya di Masjid al-Haram, pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, diprediksi kurang lebih 3 juta orang.

Tingginya angka Muslim pada waktu terakhir Ramadhan ini tak lain adalah untuk ‘berburu’ Lailatul Qadar yang konon, dalam banyak riwayat, berada pada sepuluh hari pamungkas Ramadhan.

Di tengah-tengah penjagaan ketat pihak keamanan, dengan antusias umat Islam dari berbagai negara hadir mengikuti pembacaan doa khataman Alquran pada 29 Ramadhan, kemarin. Seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, malam 29 di Masjid al-Haram memang dikhususkan untuk khataman Alquran.

Dalam kesempatan tersebut, Imam sekaligus Khatib Masjid al-Haram, Syekh Abdurrahman as-Sudais, mendoakan segenap umat dan dunia Islam agar terlepas dari cobaan dan ujian. Syekh Sudais, berdoa untuk saudara-saudara Muslim yang berada di tengah derita, di Palestina, Syam (Suriah), Irak, Yaman, Burma, dan negara-negara lainnya.

Sumber: http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/07/05/o9tnja320-ini-doa-dan-jumlah-jamaah-tarawih-akhir-ramadhan-di-masjid-alharam

Monday, July 4, 2016

SETELAH 85 TAHUN, ADZAN KEMBALI BERKUMANDANG DARI DALAM HAGIA SOPHIA


[portalbandung.com]. Untuk pertama kalinya setelah 85 tahun suara adzan kembali dikumandangkan dari dalam bangunan Hagia Sophia pada Jumat (1/7) kemarin. Seperti dilansir laman hurriyetdailynews.com, Sabtu (2/7), gema adzan subuh yang dikumandangkan dari ruangan dalam Hagia Sophia itu dalam rangka memperingati Lailatul Qadar.

Meskipun suara adzan sudah terdengar lewat menara-menara Hagia Sophia sejak empat tahun silam, tetapi muadzin mengumandangkannya dari ruangan shalat yang berada di halaman kompleks Hagia Sophia. Ruangan shalat tersebut bukan bagian dari bangunan bekas masjid dan katedral yang menjadi landmark kota Istanbul itu.

Dibangun sebagai pusat Kristen Orthodoks pada era Kaisar Bizantium Justinian I tahun 537, Hagia Sophia dikenal sebagai Ayasofya di Turki. Pusat kekuasaan Kristen Orthodoks itu kemudian dialihfungsikan menjadi masjid setelah Sultan Mehmet II menguasai kota Istanbul pada 1453. Status Hagia Sophia sekarang masih sebagai museum dan bukan masjid, sejak ditetapkan demikian pada 1935 oleh Mustafa Kemal Ataturk.

Beberapa tahun belakangan muncul seruan agar memfungsikan lagi Hagia Sophia sebagai masjid. Seruan adzan tersebut ditayangkan di stasiun televisi Turki pada Sabtu (2/7) dalam program yang menampilkan Mehmet Gormez, ketua Direktorat Urusan Agama Islam (Diyanet).

Dalam tayangan itu Gormez menyebut serangan di Bandara Ataturk Istanbul sebagai perang terhadap Islam. Dia mengatakan Islam termasuk korban dari terorisme.

“Yang dibunuh bukan hanya nyawa-nyawa kita, tetapi juga nilai-nilai tertinggi bagi kemanusiaan yang dibawa oleh Islam,” kata pemuka Muslim Turki itu seperti dikutip Hurriyet.

Video bisa disaksikan di sini:


Sumber: http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/07/04/o9rhl3383-setelah-85-tahun-adzan-kembali-terdengar-dari-dalam-hagia-sophia

Sunday, July 3, 2016

RAHASIA KEMENANGAN PERANG BADAR YANG TERJADI PADA BULAN RAMADHAN



     Kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar al-Kubra melawan pasukan kaum kafir Quraisy Makkah amatlah menyejarah. Sebuah pencapaian amat monumental, meski kaum Muslimin memiliki banyak keterbatasan di bidang fisik berupa persenjataan, bekal, dan strategi perang. Banyak yang kurang memahami, di balik kemenangan itu, terdapat rahasia yang amat penting. Rahasia yang jika dibedah, lalu diamalkan oleh kaum Muslimin akhir zaman ini, maka kemenangan serupa bukanlah sesuatu yang mustahil.

     Perang yang dinisbatkan kepada nama salah satu sumur di Madinah ini terjadi pada tahun kedua Hiriyah, tepat ketika ibadah puasa di bulan Ramadhan mulai disyariatkan oleh Allah Ta’ala. Sebuah korelasi yang sangat tidak nyambung secara logika; berperang fisik saat kondisi badan didera lapar dan haus.

     Namun, justru di sinilah letak rahasianya. “Mereka,” tutur Anis Matta dalam salah satu taujihnya menjelaskan kondisi kaum Muslimin Madinah kala itu, “sedang berada di puncak keimanan, jiwa-jiwa mereka tengah melalang-buana di langit keimanan dan tawakkal, hasrat dan rindu mereka hanya terpaut ke surga.”
     Itulah sebabnya. Inilah alasannya. Inilah rahasia kemenangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya dalam Perang Badar. Rahasia yang kini, tidak dimiliki oleh kaum Muslimin hingga terpuruk dalam keterjajahan di berbagai bidang kehidupan. Rahasia yang rasa-rasanya, sangat jauh untuk digapai, padahal sebabnya ada di dalam diri setiap Muslim.


     Kondisi inilah yang mengantarkan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada kondisi, masih menurut penjelasan cendekiawan Muslim asal Bone ini, “Kepercayaan yang tidak terbatas pada Allah Ta’ala, tekad baja yang tidak terkalahkan dalam menegakkan kebenaran, keberanian yang tak pernah bisa disentuh oleh ketakutan, kerinduan pada surga yang tidak dapat diselesaikan oleh fatamorgana.”

     Semua kondisi itu, simpul lulusan LIPIA Jakarta ini, “Itu semua yang memberikan energi perlawanan yang sangat dahsyat.”

     Kemangan jiwa. Itulah kuncinya. Kemenangan ini yang menjadi kunci hingga tercapainya kemenangan di medan fisik berupa kemenangan peperangan. Para sahabat telah memenangkan jiwa atas nafsunya. Mereka menjadikan motivasi akhirat sebagai yang utama, hingga keterbatasan-keterbatasan duniawi tak bermakna melemahkan bagi mereka.

     Dan salah satu kunci utama dari kemenangan jiwa itu, masih menurut Anis Matta, adalah puasa Ramadhan yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala kepada kaum Muslimin di tahun itu, untuk pertama kalinya.

Wallahu a’lam. [Pirman/BersamaDakwah]

Sumber: http://bersamadakwah.net/rahasia-kemangan-perang-badar-yang-jarang-dipahami/
SaveSave

BANTAHAN UNTUK PARA FATALIS YANG BERDALIH 'SAYA BERMAKSIAT ATAS KEHENDAK ALLOH'



[portalbandung.com]. Dalam kajian rutin bulanan di Masjid Raya al-A’dham Kota Tangerang, Pemimpin Majlis al-Bahjah Buya Yahya mendapat sebuah pertanyaan dari salah seorang jamaah. Muslimah. Wanita itu bertanya, “Bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa selingkuh yang dia lakukan merupakan kehendak Allah Ta’ala? Apakah pernyataan tersebut benar?”

Tidak hanya laki-laki yang dijadikan objek pertanyaan oleh Muslimah tersebut, sejatinya banyak sekali orang yang mengaku beragama Islam, tapi berkeyakinan bathil macam ini. Atas nama pemahaman agama dan penyandaran diri kepada Allah Ta’ala, mereka mengklaim bahwa tindakan buruk, maksiat, dan dosa yang mereka kerjakan merupakan bagian dari Kehendak Allah Ta’ala. Sebab Dia Maha Berkehendak. Tiada satu pun yang terjadi di muka bumi dan alam semesta ini melainkan atas izin dari Allah Ta’ala.

“Semua yang terjadi di semesta raya ini,” jawab Buya Yahya terdengar santun dan tegas, “memang atas Kehendak Allah Ta’ala.” Tiada satu pun kejadian, pun yang paling kecil dan tidak bisa dilihat, semuanya atas Kehendak Allah Ta’ala.
“Akan tetapi,” lanjut dai yang juga pendiri Pondok Pesantren al-Bahjah ini, “Allah Ta’ala juga memberikan kehendak kepada hamba-Nya untuk berkehendak.”

Atas kehendak dari Allah Ta’ala tersebut, seorang hamba bisa memutuskan untuk melakukan perbuatan baik atau buruk. Perbuatan inilah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala. Jika kebaikan, maka seorang hamba akan mendapatkan pahala. Jika keburukan, maka seorang hamba akan mendapatkan dosa.

Sebagai jawaban pamungkas, sosok yang kerap mengenakan jubah ini memberikan kiat jitu untuk membungkam argumen orang-orang berkeyakinan sesat ini.

Andai bertemu dengan orang yang berkeyakinan seperti ini (yang mengatakan bahwa maksiatnya atas Kehendak Allah Ta’ala), jelas Buya Yahya, “Ambil saja palu. Pukulkan di kepalanya dengan keras.” Jika orang tersebut marah-marah sembari menahan sakit, jawab saja dengan santai, “Itu kan Kehendak Allah Ta’ala!”

Atau, masih menurut beliau, arahkan saja dua tangan Anda tepat di kedua bola matanya. Coblos dua bola matanya. Saat dia menggerutu kesakitan itu, jawab saja dengan berkata, “Loh? Bukannya hal tersebut merupakan Kehendak Allah Ta’ala?”

Terkait takdir ini, kita memang mendapati dua kubu ekstrem. Kubu pertama menisbahkan semua perbuatan kepada Allah Ta’ala, termasuk perbuatan buruk. Sedangkan kubu kedua beranggapan bahwa dirinya memiliki kekuatan untuk melakukan apa pun tanpa campur tangan Allah Ta’ala.

Maka akidah ahlus sunnah wal jamaah adalah akidah yang pertengahan di antara keduanya. Allah Ta’ala Maha Berkehendak, tapi Dia memberikan kehendak kepada hamba-hambanya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu. Mereka meyakini semua kejadian atas Kehendak-Nya, tapi mereka tidak akan menisbatkan keburukan kepada Allah Ta’ala sebab Dia Mahabaik.

Wallahu a’lam. [Pirman/BersamaDakwah]

Sumber: http://bersamadakwah.net/bantahan-telak-untuk-orang-yang-berkata-saya-bermaksiat-atas-kehendak-allah/